Pantun Penutup Pidato

Posted on

Pantun Penutup Pidato Assalamu’alaikum, Wa’alaikumussalam, Bahasa Sunda Lucu, 2 Variasi, Dll – Hallo sahabat pembaca yang budiman, ketemu lagi dengan kami. Hari ini kita akan membahas makalah yaitu tentang Pantun Penutup Pidato. Tentunya mungkin kalian juga pernah mendengar ketika ada seseorang berpidato mungkin itu kepala sekolah kita, kepala desa kita mungkin, atau yang lainnya, biasanya mereka ketika berpidato pada saat penutup mereka sisipkan satu bait pantun penutup dengan tujuan untuk menghibur atau memecahkan suasana.

Namun, apakah kalian juga pernah melakukannya ? jika belum cobalah sesekali ketika kalian berpidato, mungkin pada saat kalian mengikuti sebuah perlombaan pidato disekolah. kalian bisa menyisipkan di saat penutup pidato. Pasti akan memecah suasana menjadi lebih meriah lagi.

Nah ,, dibawah ini kita berikan beberapa contoh pantun penutup pidato yang mungkin saja bisa kalian jadikan bahan untuk pidato kalian.

Yuk kita simak !

Pengertian Pantun Penutup Pidato

Pantun penutup pidato adalah pantun yang di rangkai khusus untuk melakukan penutupan sebuah pidato. Isi dari pantun ini biasanya lebih mengarah ke penghiburan, nasehat, petuah dan lainnya sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pelaku.

Biasanya pidato yang sering ditutup dengan menggunakan sebuah pantun adalah ketika berpidato dalam acara pernikahan dan juga pidato formal lainnya.

Baca :  Pantun Lucu

Contoh – Contoh Pantun Penutup Pidato

Berikut ini adalah beberapa contoh pantun penutup pidato yaitu :

Pendidikan akhlak penting sekali,
Harus diajarkan terus setiap hari,
Entah kapan kita dapat bersua lagi,
Jangan malu – malu untuk berselfi.

Bertengkar saja tak ada guna,
Jika menang jadi abu kalah jadi arang,
Jangan takut untuk bertanya,
Karena saya tidak memakan orang.

Putih-putih bunga melati,
Harum mewangi di pagi hari,
Pidato saya cukup disini,
Jika rindu harap hubungi.

Mandi lumpur rambut berdaki,
Setalah kering berwarna putih,
Jangan pandang menatap sekali,
Saya sudah punya kekasih.

Bawa pinangan ke penghulu,
Hadiahkan dia sebungkus roti,
Maaf jika aku malu-malu,
Di depan ada pujaan hati.

Di China ada pendeta,
Berpidato tak henti cakap,
Semua sibuk entah mengapa,
Sehingga salam penutup tak terjawab.

Bertamasya ke penangkaran,
Melihat tiga anak buaya,
Jika ada yang ingin ditanyakan,
Silakan, sebelum saya lupa materinya.

Jalan-jalan ke Taman Mini,
Singgah sebentar membeli kuaci,
Pidato saya sampai disini,
Lain waktu kita sambung lagi.

Sungguh enak sayur buncis,
Dipulam bulat si buah pete,
Kututup pidato waktu sudah habis,
Bapak Kepala sudah mengode.

Jari telunjuk untuk menunjuk,
Cincin kawin di jari manis,
Kulihat teman-teman sudah ngantuk,
Tenang saja, pidatonya sudah habis.

Ke pulau seberang membawa barang,
Subuh hari berangkat berlayar,
Kalo pidatoku kurang panjang,
Silakan undang lagi, tapi bayar.

Burung elang si burung buas,
Jinak-jinak burung merpati
Kalau kawan-kawan belum puas,
Besok bisa kita ulang lagi.

Tahanlah pondok dengan kayu,
Untuk tempat makan berdua,
Jangan pada bubar dahulu,
Mari kita berdo’a bersama.

Sungguh enak ikan tuna,
Oleskan cabe menjadi pedas,
Cukup sekian dari saya,
Karna materinya sudah kandas.

Pergi berburu ke dalam hutan,
Bertemu rusa belang kaki,
Hanya itu yang bisa saya sampaikan,
Karena sayapun sudah lelah berdiri.

Anak Gembala pandai bersulap,
Sulap dimainkan di tengah hari,
Salam penutup tak terjawab,
Kuulangi sekali lagi,
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Pisau diasah pagi-pagi,
Bawa ke kebun untuk membabat,
Berakhir sudah pidatoku ini,
Semoga bisa memberi manfaat.

Bunga bangkai si Rafflesia Arnoldi,
Baunya sungguh busuk sekali,
Pidato pendidikan sampai disini,
Semoga kelak berjumpa lagi.

Pak Mamat punya burung Kenari,
Burung dijemur hingga siang,
Pembicaraan berakhir sampai disini,
Salah dan janggal mohon maafkan.

Bayi merangkak di atas tanah,
Merangkak hingga ke belakang rumah,
Semoga pidato ini jadi berkah,
Untuk lentera di alam barzah.

Karena godaan si tampan rupa,
Maka terayu putri mahkota,
Mohon maaf atas segala kata,
Yang mungkin mengusik lautan jiwa.

Sapi disembelih berlumur darah,
Potong dagingnya di hari Qurban,
Mohon maaf segala salah,
Juga khilaf mohon dimaafkan.

Jalan-jalan ke Palangkaraya,
Beli rambutan serta semangka,
Jangan malu untuk bertanya,
Sebelum kita menutup acara.

Pisau menggores menjadi luka,
Rasanya sakit amatlah pedih,
Cukup sekian dari saya,
Saya haturkan terima kasih.

Ambillah papan bawalah paku,
Paku di pukul dengan tembaga,
Maafkan salah kata-kataku,
Namanya juga manusia biasa.

Pergi memancing ikan nila,
Nila dipancing di hari senja,
Salam undur diri dari saya,
Untuk teman-teman semuanya.

Penjahit benang di dalam peti,
Ibu Tuti menjahit kebaya,
Saya pamit untuk undur diri,
Terima kasih atas perhatiannya.

Kucing berlari di dalam semak,
Lari melesat mendengar babat,
Terima kasih sudah menyimak,
Semoga dapat memberi manfaat.

Pergi ke pasar membeli rambutan,
Pasar dibuka siang senin,
Sampai jumpa kawan – kawan,
Semoga bertemu pada kesempatan lain.

Baca Juga :   Majas Sarkasme

Baca :  Pantun Jenaka

Demikianlah pembahasan makalah tentang Pantun Penutup Pidato dan Contohnya. Semoga bermanfaat ya ….