Tut Wuri Handayani

Posted on

Tut Wuri Handayani- Logo, Lambang, Arti, Contoh, Sejarah, Dan lainnya- Hallo sahabat pembaca yang budiman, pada kesempatan kali ini kita akan membahas makalah tentang Pengertian Tut Wuri Handayani, gambar logonya, arti dan maknanya lengkap. Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan isitilah tut wuri handayani ini dan logonya. Namun, alangkah baiknya jika kita kaji lagi tentang materi tersebut sebagai tambahan bekal ilmu kita didunia.

Baiklah, mari langsung saja kita simak uraian meterinya dibawah berikut ini!

Pengertian Tut Wuri Handayani

Tut wuri handayani adalah suatu kata yang berasal dari bahasa Jawa, yang memiliki sebuah arti : apabila berada dibelakang dapat memberikan dorongan (dorongan moral).

Tut wuri handayani ini merupakan salah satu penggalan dari tiga kalimat yang di cetuskan oleh bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara. 3 bentuk kalimat yang lengkap tersebut yaitu :

Ing Ngarso Sun Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Makna yang terkandung adalah : ketika di depan dapat memberi teladan (contoh yang baik), apabila di tengah dapat membimbing (memberi memotivasi, memberi semangat, menciptakan keadaan yang kondusif) dan apabila di belakang dapat memberi dorongan (dorongan moral).

Secara terperinci, tiga kalimat di atas dapat kita artikan yakni sebagai berikut :

  1. Ing Ngarso sung Tulodo, berasal dari sebuah potongan kata – kata yaitu : ing artinya di, Ngarso artinya depan, sung artinya jadi, Tulodo artinya contoh atau panutan. Seingga jika di gabung maka artinya adalah : Di Depan menjadi Contoh atau Panutan.
  2. Ing Madya Mangun Karsa, berasal dari sebuah potongan kata – kata yaitu : ing artinya di, Madyo artinya tengah, mangun artinya berbuat, Karso artinya penjalar. Sehingga jika digabungkan maka akan mengandung arti yaitu : Di tengah Berbuat Penjalaran.
  3. Tut Wuri Handayani, berasal dari sebuah potongan kata – kata yaitu : Tut artinya di, Wuri artinya berbuat atau mengelola, Handayani artinya Dorongan. Sehingga apabila di gabung maka artinya adalah: Di Belakang membawa dampak Dorongan atau Mendorong.
    Maka, jika dari ketiga kalimat diatas kita gabungkan menjadi satu. Kita akan mendapatkan arti yang lengkap yaitu : ”Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” yang artinya adalah :
    ”Di Depan dapat Menjadi sebuah Panutan dan Contoh, Di Tengah dapat menjadi sebuah lantaran Penjalar atau Penyeimbang, dan di Belakang memberikankan sebuah dorongan”
Baca Juga :   Nama - Nama Hari Dalam Bahasa Arab

Kata tut wuri handayani ini juga menjadi simbol pada sebuah Departemen pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Simbol atau logo tersebut yaitu :

Di dalam sebuah konsep kepemimpinan yang bagus, kalimat ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani merupakan sebuah rujukan ang sering di pakai. Kalimat tersebut layaknya seperti guru, yakni sebuah nadehat yang perlu di gugu dan dan di tiru untuk memimpin atau melakukan sebuah tindakan.

Sayangnya, ketiga kalimat tersebut sangat jarang dipakai oleh orang – orang terutama oleh seorang pemimpin. Kebanyakan dari kita sudah pernah mempelajarinya, mengerti akan maksud dan tujuannya, namun sangat jarang sekali yang mau atau bahkan bisa mengamalkannya.

Entah karena sudah merasa hebat atau memang belum mampu untuk mengamalkannya.

Padahal, apabila tiga kalimat diatas mampu dipahami, dihayati dan di amalkan oleh setiap manusia khususnya para guru dan pemimpin, maka akan sangat memiliki pengaruh yang sangat besar untuk bangsa dan dunia ini.

Sejarah Kalimat Tut Wuri Handhayani

Mengenai sejarah kalimat tut wuri handhayani, maka tidak akan terlepas dari sosok pahlawan yang kita kenal dengan bapak pendidikan Indonesia yaitu bapak Kihajar Dewantara.

Biografi Singkat Tentang Ki Hajar Dewantara

Dalam bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh pahlawan nasional dibidangnya. Beliau terkenal sebagai bapak pendidikan nasional. Sehingga peringatan hari pendidikan nasional pun di ambil dari hari lahir beliau yaitu tanggal 2 mei 1889, sebagai tanda penghormatan kepada beliau.

Tidak hanya itu, lambang departemen pendidikan dan kebudayaan pun juga diambilkan falsafah dari salah satu kalimat semboyan pendidikan yang pernah beliau ajarkan yaitu : Tut Wuri Handhayani.

Lambang departemen pendidikan dan kebudayaan di resmikan secara nasional pada tanggal 6 September 1977 dengan nomor ketetapan yaitu : 0398/M/1977.

Baca Juga :   Kunci Jawaban Tema 3 Kelas 6

Riwayat Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara merupakan salah satu pelajar yang berhasil menamatkan pendidikannya di Eropa. Pada saat itu beliau tamat sekolah dasar, yang mana pada saat itu, hanya orang keturunan bangsawan saja yang mampu sekolah disana.

Setelah itu, beliau melanjutkan kembali pendidikannya di sekolah Dokter Bumi Putera, yang lebih di kenal dengan STOVIA. Namun, beliau tidak sempat untuk menamatkannya karena serangan sakit.

Setelah itu, belilau kemudian mengambil profesi sebagai seorang wartawan dan penulis pada beberapa surat kabar, seperti : Poesara, Sedyotomo, Midden Java, Tjahaja Timoer, De Express, Kaoem Moeda, dan Oetoesan Hindia.

Dalam sebuah karya tulisnya, beliau pernah menulis sebuah artikel yang berjudul : Als ik een Nederlander was yang artinya “Seandainya aku seorang Belanda “, yang di muat oleh surat kabar De Express sekitar tanggal 13 juli 1913.

Artikel tersebut ternyata dapat menohok para kaum Hindia Belanda sehingga beliau harus di tangkap oleh pasukan belanda dan di asingkan ke pulau Bangka dan kemudian di asingkan ke negara Belanda bersama dengan dua orang sahabatnya yaitu : Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Namun selama di pengasingan, beliau tidak lantas diam saja, namun beliau tetap aktif dalam sebuah organisasi Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging) yaitu sebuah organisasi yang di isi oleh pelajar Indonesia.

Dari situ lah semangat cita – cita yaitu ingin memajukan bangsa Indonesia tumbuh. Beliau berhasil menyelesaikan studinya dengan mendapatkan ijazah bergengsi yang mana kelak ilmunya akan menjadi salah satu pijakannya untuk membangun sebuah lembaga pendidikan.

Beliau juga memiliki beberapa tokoh inspirasi, seperti : Montessori, Froebel dan beberapa pergerakan pendidikan India oleh keluarga Tagore – Santiniketan. Beliau terpengaruh dari beberapa inspirasinya tersebut sebagai landasan beliau dalam mengembangkan sistem pendidikannya di Indonesia.

Bulan September 1919, Ki Hajar Dewantar barulah kembali pulang ke Indonesia dan bergabung dengan sekolahan binaan miliki saudaranya. Pengalaman mengajar beliau ini kemudian beliau jadikan sebagai pengembangan konsep mengajar pada sekolah yang beliau dirikan yakni Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922.

Baca Juga :   Pengertian Planet Mars

Dari beberapa kisah pendidikan beliau hingga beliau berhasil mendirikan sebuah yayasan pendidikan. Beliau mencetuskan sebuah semboyan pendidikan yang sangat populer di dunia pendidikan bahkan hingga sekarang. Semoboyan tersebut menggunakan bahasa Jawa yaitu : ing ngarsa sung tulodho, ing madyo mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya yaitu : di depan memberi contoh, di tengah dapat memberikan semangat, di belakang dapat memberikan motivasi dorongan.

Semoyan ini masih di gunakan hingga saat ini, terlebih pada sekolah – sekolah perguruna nasional Taman Siswa.

Latar Belakang Berlakunya Tut Wuri Handhayani

Asas tujuh yang merupakan asas pernyataan sebagai aksi perjuangan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial belanda serta untuk mempertahankan sebuah kelangsungan bagi hidup dan sifat nasional dan demokrasi. Tujuh asas inilah merupakan latar belakang diberlakukannya Tut Wuri Handhayani.

Berikut ini adalah bunyi tujuh asas tersebut, yaitu :

  1. Setiap orang memiliki hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam berkehidupan umum.
  2. Pengajaran harus memberi pengetahuan yang bermanfaat yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
  3. Pengajaran harus tersebar luas hingga dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
  4. Pengajaran wajib dengan berdasarkan pada kebudayaan serta kebangsaan sendiri.
  5. Mengejar sebuauh kemerdekaan secara hidup lahir dan batin hendaklah diusahakan dengan suatu kekuatan sendiri.
  6. Konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka sepenuhnya harus membelanjai sendiri semua usaha yang dilakukan.
  7. Mendidik anak-anak perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan peribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.

Demikianlah pembahasan makalah tentang Tut Wuri Handhayani. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua….

Baca juga :